0

Bosen Gak Sih?!

Di arisan Angkringan kemaren, seorang teman bertanya ke suami saya. "Kalian bosen ga sih menjalani kehidupan rumah tangga yang ketemu mulu setiap hari?". Sebenarnya pertanyaan ini ga sekali dua kali sih kami terima. Secara, kami berdua satu perusahaan, satu kantor, bahkan satu ruangan lagi. Pulang pergi kerja selalu bareng. Kan biasanya butuh ruang dan waktu agar dapat menciptakan rasa rindu.

Suami saya menjawab, tidak ada bosan sama sekali. Karena kami berdua bersama di rumah dan di kantor memang sama-sama saling membutuhkan. Jadi bukan karena kami  harus terpisah jarak dan waktu dulu baru kami akan saling kangen dan gak bosen, tentu bukan karena itu. Kami dirumah cuma bertiga, segala sesuatu kami lakukan bareng dan berbagi peran saja. Jadi tidak ada bosannya. Karena setiap hari, baik di rumah, di perjalanan, di kantor atau di manapun, saya dan suami selalu mempunyai topik-topik yang selalu seru dibicarakan. Baik soal anak,  keluarga, agama, dunia pasar modal, ekonomi, politik, ataupun yg pastinya soal kerjaan, dsb. Yg paling seru biasanya kami membicarakan tingkah polah Sheena. Sekecil apapun itu. Dan lagi, karena kerjaan saya dan suami selalu beririsan, jadi apapun yang dibicarakan selalu nyambung. Semua teman suami saya adalah teman saya, dan semua teman saya adalah teman suami saya pula. Jadi tetap seru-seru aja.

Pertanyaan senada lainnya yang suka kami terima, "Kalau di rumah ngomongin kerjaan ga?" Jawabannya, ya! Kami juga ngomongin kerjaan, gimana caranya hal ini diperbaiki, gimana supaya masalah itu selesai, saya bertanya soal sistem di departemen suami saya, atau sebaliknya dan banyak hal lainnya. "Ih apa banget di rumah masih aja bahas kerjaan". Sebagian orang pernah bilang gitu ke kami, bagi kami itu baik-baik aja. Membicarakan kerjaan di rumah bukanlah sebuah nightmare bagi kami. Seru-seru aja sih. Toh dengan membicarakan itu kualitas kebersamaan keluarga tidak berkurang. Jadi ga masalah dan itu menyenangkan.

"Kalau ketemu terus, apa ga kangen sama sama suami/istri?" Ya kangen donk. Suami saya ga keliatan di mejanya aja saya cariin, atau tumben jam segini suami belum mampir ke meja saya, saya pasti tanya, dan sebaliknya. Jadi kangen itu bukan ditentukan jarak dan waktu. Bisa kapanpun. Asalkan kita mengerti cara menciptakannya, tahu cara mengelolanya, tahu cara menjaganya. Tiap-tiap keluarga pasti punya caranya sendiri.

Terakhir, saya terus berdoa semoga Allah selalu jaga kehangatan di keluarga kecil kami sampai kapanpun. Mohon doakan pula ya teman-teman.. 😊

0

Kenapa Memilih Daycare?

@InsaniMukhlisa

Ketika seorang ibu memilih suatu hal, pasti itu sudah dilakukan dengan berbagai pemikiran dan pertimbangan yang panjang. Ada ibu yang memilih stay di rumah bersama anak-anak, ada juga ibu yang memilih ingin mengaktualisasikan dirinya untuk bekerja di ruang publik, terlebih lagi ruang publik tersebut adalah pekerjaan yang ia inginkan dan ia idamkan.

Kedua pilihan tersebut tidaklah salah menurut saya. Keduanya benar, selama itu dilakukan atas izin suami.
Karena saya adalah ibu yang memilih bekerja di ruang publik sebutlah dengan istilah “Working Mom”, tentunya kita akan dihadapkan dengan beberapa pilihan dan kegalauan anak akan ditempatkan dimana selama kita  bekerja, siapa yang mengasuhnya dst.
Sebagai  keluarga yang jauh dari orang tua dan saudara tapi ingin (dan atau) harus bekerja, tentunya ada fase dimana saya merasa galau anakakan dititipkan ke siapa. Setidaknya ada beberapa pilihan saya saat itu :
  1. Anak bersama orang tua atau mertua
  2. Anak bersama pengasuh yang sudah dikenal dekat (baik dari kerabat, keluarga, tetangga dekat)
  3. Anak bersama pengasuh profesional (baby sitter)
  4. Anak di daycare
  5. Anak bersama dirumah 24 jam bersama ibunya, ibu harus resign dari kantor


Di antara kelima pilihan yang saya jabarkan di atas, sampai hari ini Sheena berusia 2.5 tahun, saya sudah merasakan point no 1, 2 dan 4.

Di awal masa bekerja pasca melahirkan mama dan mami mertua saya bergantian untuk datang ke Bekasi untuk mengasuh Sheena. Tapi, hal ini tidak bisa saya harapkan berkelanjutan, karena kedua orang tua memiliki tanggung jawab di Bukittinggi ataupun Ponorogo.  Selain itu, saya tidak ingin membebani orang tua, karena menurut hemat saya pribadi, orang tua sudah sangat penat membesarkan kita sampai hari ini, sebaiknya di hari-hari tuanya, mereka tidak disibukkan dengan kepayahan mengasuh anak kita (sekalipun  sebenarnya mama dan mertua saya menyukainya). 

Sampai akhirnya kami menemukan solusi menitipkan Sheena ke tetangga yang suaminya 1 kantor dengan saya dan suami. Saat itu usia Sheena 5 bulan. Alhamdulillah si ibu punya anak yang sudah besar-besar, dan tidak ada kegiatan apapun di rumah. Saat ini saya sangat bersyukur, karena saya sangat terbantu. Tapi inipun tidak saya lanjutkan, karena beberapa hal, akhirnya ketika usia Sheena 14 bulan saya mulai mencarikan Sheena tempat bermain baru. Bermodal cuti di kantor, saya nekad menjalani perumahan-perumahan di sekitar rumah untuk mencari beberapa kandidat tempat daycare. Dan saya cukup senang, karena saya memiliki banyak pilihan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin karena kami berdomisili di tempat yang banyak pekerjanya.


Oiya mungkin ada yang bertanya, kenapa saya lebih memilih daycare dibanding mencarikan pengasuh professional (baby sitter) Pertama, sulit sekali menemukan pengasuh yang cocok di hati. Bahkan ada yang berpendapat lebih susah mencari pengasuh yang pas dibanding mencari jodoh, hehe. Kedua, saya masih parno dengan berita-berita yang beredar di TV dan media sosial terkait banyaknya tindak kriminal yang dilakukan ke anak. Ketiga, saya kurang suka ada orang lain di luar keluarga dekat tinggal serumah dengan saya.


Bagi para Bunda yang senasib dengan saya, tenang aja, Bunda tidak sendirian kok. Saya menjatuhkan pilihan inipun dengan berderai air-mata, hehe.  Galau anak saya akan bagaimana, tapi semua saya pasrahkan pada Allah, saya percayakan semua pada Allah, satu hal keyakinan saya pada saat itu, saya bekerja untuk melakukan hal kebaikan, bukan berarti saya tidak cinta dan sayang dengan anak, tapi keyakinan saya, Allah pasti akan kasih saya jalan dan petunjuk ketika saya punya niat baik. Itu saja.

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sedikit tips untuk memilih daycare yang tepat bagi anak versi saya,
  1. Survey dulu beberapa daycare.  Jangan bermodalkan “katanya katanya” untuk hal se-priotritas ini. Dan gunakan feeling sebagai orang tua terkait daycare nya.
  2. Bertanya kepada sekitar, waktu itu saya bermodal bertanya ke satpam-satpam perumahan dan mereka memberitahukan tempat-tempat tersebut. Catatan : beberapa petugas tidak mengerti apa itu daycare. Mungkin coba menerjemahkan menjadi “tempat penitipan anak, taman bermain anak usia dini, dsb”.
  3. Pilihlah lokasi yang sejalan dengan aktifitas harian bunda, karena ini akan sangat memudahkan mobilisasi setiap hari ketika antar jemput anak.
  4. Wawancara Owner daycare dan pengasuhnya. Saat itu saya sudah punya list pertanyaan yang akan saya ajukan, tujuan saya agar saya bisa membaca apakah tempat ini layak untuk jadi rumah kedua anak saya atau tidak dan juga mengetahui bagaimana pola asuh mereka. Saya share juga ya list pertanyaannya di bawah ya.
  5. Biaya. Sesuaikan dengan budget keluarga. Berapa biaya bulanan, jika ada overtimenya bagaimana.
  6. Cari testimoni dari pihak sekitar terkait daycare. Waktu itu saya sampai menanyakan ke ibu-ibu sekitar daycare dan mba-mba salon sekitar daycare tersebut. Dan Alhamdulillah testimony mereka baik. Bahkan saya sempat menanyakan ke salah satu orang tua siswa daycare, ternyata ibu ini sudah menitipkan 2 anaknya disana. Saya berkesimpulan tempat tersebut cukup baik.
Pertanyaan untuk survey daycare :


1.    Apa latar belakang mereka mendirikan daycare. Saya ingin menggali seberapa serius mereka menjalani usaha ini. Saya ingin tau apakah pihak daycare semata untuk bisnis atau tidak.

2.   Apa latar pendidikan pengasuh daycarenya

3. Bagaimana pola asuh harian? Apakah ada jadwal yang mendisiplinkan anak? Jadi ada waktu yang jelas kapan anak bermain, belajar, nyusu, tidur, mandi dsb.

4. Berapa ratio pengasuh dibanding anak? Berapa kapasitas maksimal daycare?

5. Apakah daycare ini pro-ASI? JIka iya, saya tanyakan bagaimana mereka memenej ASInya. Karena saat itu saya masih memberikan full ASI ke Sheena. 

6. Bagaimana cara menidurkan anak? Saat itu ada yang mengingatkan saya, agar jangan memilih daycare karena ternyata ada “oknum” daycare lain yang menidurkan anak menggunakan obat penenang. Serem kan…

7. Hal apa yang selalu mereka tanamkan pada anak? Misalnya, kemandirian, berteman, berbagi, sosialisasi, dll. Bagaimana pengasuh berkomunikasi dengan anak? Apakah anak akan dimarahi atau dikasari ketika salah? Apakah anak dimanja atau diberikan ketegasan agar disiplin? Oiya cek juga pemakaian TV dan gadget di daycare. Saya menemukan waktu survey ada lho daycare yang waktu itu saya lihat sendiri sedang menayangkan FTV Indos*ar yang adegannya sangat lebay dan bahasa gak pantas didengar anak.

8. Coba gali juga pola makan disana seperti apa? Saya juga menanyakan daftar menu harian mereka untuk memastikan nutrisi apa yang diberikan pada anak-anak. 

9. Mainan edukatif apa saya yang mereka sediakan?

10. Bagaimana kebersihan makanan, arena bermain, ruang tidur, juga mainan.

11. Apakah ada kurikulum sekolahnya, atau ada agenda periodik untuk menunjang kegiatan di daycare.

12. Penanaman nilai agama Islam seperti apakah?

13. Pola komunikasi orang tua dan pengasuh seperti apa?

14. Obat-obatan yang mereka miliki untuk keadaan darurat?


Banyak ya list pertanyaan saya. Hehe.  Saya ampe bertanya ke sana 2 kali sesi, dan melanjutkan via whatsapp. Ini semua karena saya hanya ingin memastikan Sheena berada di tempat yang baik. 

Setelah diskusi lebih lanjut dengan suami (suami saya turut sertakam survey dan bertanya banyak ke pihak daycare), akhirnya  setelah saya seleksi, saya mendapatkan Islamic Daycare yang saat ini saya gunakan jasanya. Pengasuhnya berlatar belakang sarjana pendidikan anak usia dini. Saya mendapati tempat ini sederhana, tapi yang saya kagumi bagaimana anak-anak bisa sangat tertib bersama guru mereka. Selain itu Sheena sangat banyak perkembangannya di daycare. Dulu di awal-awal, Sheena adalah anak yang sungkan dan tertutup dengan orang baru, sejak di daycare Sheena lebih mudah bersosialisasi. Selain itu Sheena juga lebih mandiri untuk hal-hal simple yang bisa diajarkan ke anak se-usianya. Yang paling terasa, Sheena senang sekali makan tanpa disuapi. Di tempat Sheena, 1 pengasuh untuk 2-3 anak. Dan untuk biaya, menurut saya cukup reasonable dan logis. Karena makan siang dan sore ditanggung di daycare. Selain itu, yang saya sukai, daycare ini melakukan perhitungan sangat transparan. Jadi misalkan, jika saya overtime sebulan hanya 50 menit, ya saya akan bayar selama 50 menit, tidak dibulatkan 1 jam demikian. Selain itu pengasuh sangat terbuka dengan masukan dari orang tua. Pola komunikasi sangat intens, pihak daycare akan selalu melaporkan apa saja yang dialami Sheena baik hal baik dan juga hal buruk, entah kejedot , entah bisa baca Alfatihah, mulai bisa baca beberapa huruf Iqra, anak muntah, dsb. Jadi tidak ada yang ditutup-tutupi. Komunikasi via whatsapp dengan pihak daycare sangat sering. Oiya, pengasuh juga memberikan formulir pendaftaran berikut fotocopy ijazah PAUD dan KTP beliau kepada kami. Bagi saya, ini juga jaminan sih kalau suatu hari ada hal yang tidak diinginkan. Tapi, mudah-mudahan tidak ada ya. Aamiin.



Setahun sekali, daycare mengundang orang tua murid untuk silaturrahim daycare dan orang tua, selain itu ada penampilan seni dan bakat anak, dan juga laporan perkembangan anak. Jadi setiap anak akan dapat nominasi, siapa yang paling baik berkomunikasi, paling baik kemampuan sosialisasinya, yang mana kognitifnya menonjol, dsb. Jadi karena pengasuhnya lulusan PAUD, jadi mereka tau bagaimana menemukan bakat dan kemampuan anak sesuai usianya. Setahun sekali, daycare juga mengadakan field trip (nebeng ke TK mertua nya pengasuh daycare). Sheena pernah ikut field trip ke pabrik Inaco.


Tapi dibalik itu semua, tentunya ada kelebihan ada kekurangan. Kekurangannya :

  1. Anak ada potensi lebih mudah tertular penyakit (seperti :  common cold)/flu). Hal ini saya siasati dengan vaksinasi anak sesuai jadwal dan dengan meningkatkan imunitas anak baik dari makanan maupun suplemen tambahan. (oiya, saya memilih Sheena usia 14 bulan ke daycare, karena saya berpikir Sheena sudah komplit semua vaksin-vaksin yang penting dan utama).
  2. Orang tua harus berusaha lebih untuk antar jemput anak setiap hari. Sheena saya antar jam 06.00, saya jemput jam 16.30-an.
  3. Untuk anak yang punya sakit serius dan potensi besar menularkan, anak tidak dibolehkan masuk ke daycare, sehingga orang tua harus mencari alternatif untuk menjaga anak. Kalau saya biasanya cuti atau izin.
  4. Pekerjaan rumah dilakukan hanya berdua dengan suami. Ya, ini pilihan yang pasti terjadi, karena saya tidak punya ART atau Nanny. Tapi ini semua hanya berat di awal, lama-lama juga terbiasa dan tau bagaimana celah dan cara menghadapinya.

  5. Jika Bunda sudah fix untuk menempatkan anak di daycare, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi. Ini berdasarkan pengalaman saya saja ya..
    • Melow luar biasa karena meninggalkan anak dalam keadaan menangis. Ya namanya anak butuh adaptasi hal baru. Alhamdulillah Sheena menangis hanya 3-4 hari di awal saja. Hari berikutnya sudah lincah kemana kemari.
    • Bunda harus ikhlas dan berikan kepercayaan kepada pihak daycare. Saya meyakini antara anak dan ibu pasti ada ikatan batin yang kuat. Di awal-awal saya menangis karena antara rela dan tidak berpisah dengan anak, justru melow-melow ini yang juga membuat anak gelisah sehingga menyulitkan Sheena dan pengasuh saling beradaptasi. Ikhlas saja. Percayakan Allah akan menjaga anak kita.
    • Beberapa anak berdasarkan penuturan pengasuhnya sempat dikembalikan ke orang tua karena masa percobaan 1 bulan, anaknya selalu menangis dan frekuensi menangisnya tidak berkurang dari hari kehari dan tidak mau makan. Terkait hal ini, biasanya pihak daycare mengembalikan anak ke orang tuanya. Karena mungkin pihak daycare tidak mau anak tersebut kenapa-kenapa di daycare. Jadi, in case anak kita seperti ini, harus siap-siap cari opsi lain ya.

    Saya informasikan juga ya checklist barang bawaan Sheena setiap harinya :
    1. Sarapan pagi dan cemilan
    2. Susu (ASI, UHT)
    3. Pakaian (minimal 3 stel)
    4. Handuk
    5. Popok (saat ini Sheena blm lulus toilet training, daycare jg mendukung anak untuk toilet training)
    6. Mukena
    7. Sepatu / Sandal
    8. Tempat Minum
    9. Pakaian Muslim (hari Jum'at)
    10. Infaq (hari Jum'at)
    11. Shampoo & Sabun (sikat gigi disediakan dari Daycare)

    OK, sekian sharing dari Bunda Sheena. Semoga ada manfaat ya dari tulisan ini.
    Terakhir dari saya, dari segala hal yang saya alami soal daycare-daycare ini, saya mendapat hikmah
    Terkadang kita memiliki kekhawatiran-kekhawatiran yang berlebihan akan sesuatu hal yang belum terjadi. Kekhawatiran ini yang kadang membuat kita tidak merasa lega dan yakin menapak ke depan. Yakinilah, dimana ada kemauan, disitu Allah akan tunjukkan jalan. Asalkan niatnya baik dan tulus, prosesnya diiringi keikhlasan, percaya saja Allah akan tunjukkan jalan-jalanNya.

    Wassalam.

    Bekasi, 25 Juni 2018

    Bunda Sheena
    0

    Menyampaikan Afirmasi Positif kepada Sheena

    Tidak terasa, Sheena sebentar lagi akan berusia 2 tahun.
    Tepatnya 21 Januari 2018 nanti.

    Dan tak terasa juga saya sudah mengASIhi Sheena selama itu.
    Ada syukur, bahagia, letih, sedih, nano-nano rasanya di dalam proses menyusui Sheena.

    Menjelang 2 tahun inilah sedikit demi sedikit saya mulai memberikan afirmasi positif. "Sheena, nanti kalau udah 2 tahun, Ayah Bunda mau Sheena udah gak nenen ya. Waktu kamu menyusu dengan Bunda tinggal 2 bulan lagi ya". Kadang Sheena juga ngambek setiap saya bicarakan ini. Dan merengek. "Neeeen...", begitu rengekannya.

    Tapi beberapa waktu belakangan, semakin saya dan suami sounding untuk disapih, semakin getol lah dia meminta menyusu.

    Ditambah beberapa hari ini, terasa sakit sekali ketika menyusui Sheena.

    Mungkin karena ASI nya sudah sangat jauh berkurang, dan Sheena giginya sudah tumbuh semua dibagian depan, menambah kompleksnya kesakitan saya setiap menyusu. Mulai saya sounding lagi. "Sheena, nenennya sakit. Sheena minum air putih ya". Saya obati. Dan dia ikuti menyodorkan "Bat. Bat, Budaa, bat nen". Malamnya saya bicarakan, Sheena, Bunda merasa sakit. Sheena dipukpuk ya boboknya. Sampai jam 11 masih terlihat masih segar matanya. Saya ajak ke kamar mandi saya ajak berwudhu sebelum bobok.
    Tidak lama saya gendong, "Nak, Bunda mau Sheena bobo tanpa nen ya.." Tampaknya dia paham dan mungkin semakin mengerti karena melihat raut wajah saya yang menahan lelah. Saya matikan lampu, saya gendong dan Sheena langsung nemplok dipundak, sambil dinyanyikan, 5 menit kemudian sudah pulas tertidur pulas.

    Alhamdulillah.. Sampai subuh tidak terbangun sama sekali. Bayi kecilku ini sudah mulai besar dan mulai bisa diberi pengertian.

    #hari1
    #gamelevel1
    #komunikasiproduktif
    #tantangan10hari
    #KuliahBunSayIIP
    #WeaningWithLove
    #WWL
    #Sheenaisturning22months

    0

    Being Stay At Home Mom or Working Mom?

    2 hari ini saya menjalani kehidupan kantor yang agak sedikit dibilang gabut. Hahaha..
    Setelah beberapa bulan belakangan saya menjalani ke-hectic-an project yang menyita pikiran dan tenaga di kantor, untuk sejenak saya bisa sedikit "leyeh-leyeh" di kantor karena lumayan agak senggang waktunya. Ya hitung-hitung rehat sejenak dari project berikutnya di bulan Juni 2017 yang maraton terus sampai tahun-tahun depan.

    Berkaca dari diri saya yang orangnya lebih suka dikasih kesibukan, dikasih senggang sedikit saya pasti mikir ngalor-ngidul kemana-mana. Diantara kegabutan saya itu sampailah saya pada pemikiran dalam (*ceileeh),

    Should I be the working mom for now until the future time?

    Haahaha..

    Pemikiran saya saat itu membawa saya untuk mengajak diskusi teman yang dulu satu kampus, terhimpun dalam satu grup whatsapp, sebutlah nama grup itu Mahmud Abas. Ya grup tersebut berisi kumpulan Mamah Muda Anak Baru Satu :D Walaupun disana ada juga sih yang baru melahirkan anak keduanya. Mungkin insyaAllah suatu hari nanti Mahmud Abas akan bertransformasi menjadi Mahmud Ternak. Mamah Muda Anter Anak.. Hahha

    Kembali ke topik yang ada di judul.
    Dari diskusi singkat yang saya jalani beberapa saat via whatsapp itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk dijawab oleh mahmud yang waktu itu memilih menjadi Stay At Home Mom (SAHM).

    Pertanyaannya simpel saja awalnya. Saya bertanya apa saja yang melatarbelakangi kenapa memilih utk SAHM? Apa saja suka dukanya? Untuk 2 pertanyaan saja alhamdulillah saya sudah mendapatkan point of view yang cukup banyak.

    Dari latar belakang yang beragam dari keseluruhan diskusi saya melihat hal positif menjadi SAHM. Diantaranya :

    1. Ibu menjadi mampu mendampingi anak all the day. Kedekatan emosional antara ibu dan anak akan lebih terbangun. Ibu akan mampu mengamati setiap perkembangan anak sekecil apapun itu. Atau mungkin si ibu belum rela anaknya diasuh orang lain.
    2. Totalitas urus suami
    3. Makan lebih sehat
    4. Rumah nyaman
    5. Suami istri tentram
    6. Dsb

    Tentunya dari hal positif pasti akan lahir juga hal-hal negatif yang *mungkin* bermunculan, diantaranya :

    1. Kegiatan rumah yang tiada habisnya mungkin akan menjemukan untuk SAHM. Ya istilahnya memicu kebosanan. Dari bosan berkepanjangan kemungkinan selanjutnya akan terjadi stress. Ya bagaimana tidak stres, menghadapi anak yang semakin hari semakin menggemaskan kadang membuat rasa sabar kian terasah, belum lagi pekerjaan rumah yang selalu ada. Mungkin ketika bekerja, si ibu memiliki kebebasan sedikit lebih dibanding jadi SAHM. Mungkin dulu sempet manager pabrik, pas jadi di rumah hanya menguasai sepetak rumah doank. Haha

    Untuk hal-hal ini bisa diantisipasi dengan cara ibu mempersiapkan me time. Minimal 1x seminggu keluar. Dan suami diharapkan lebih peka juga ajak istri keluar rumah di pengujung pekan. Minimal belanja mingguan, sesekali makan di luar, atau sekadar menemani anak bermain di taman.

    Selain itu menjadi penting untuk memahami prinsip bahwa manusia adalah untuk bermanfaat untuk orang lain (termasuk keluarga di dalamnya).

    Jika ada rasa bosan melanda, pastikan diri menemukan kesibukan apapun yang membuat ibu menjadi produktif, sebutlah misalnya merangkai bunga, memasak, baking kue, menjahit, colouring the books, ya intinya apapun itu yang menjadi stress relief.

    2. Omongan orang sekitar yg mungkin bikin baper.

    Tidak bisa kita nafikan bahwa saat ini kultur hidup kita sebagian besar masih memandang wanita bekerja itu lebih OK dibanding wanita yang fokus menjadi ibu rumah tangga. Ya kadang menjadi ibu rumah tangga masih dipandang tidak bekerja (lha wong cuci, setrika, ngepel dsb, apa disebut gak kerja? cuma pakai ilmu simsalabim prok prok jadi apa? Hahaha).

    Sejak jadi ibu saya juga merasakan apa omongan yang kadang nyelekit soal pengasuhan kita yang bikin baper. Hehehe. Ya solusinya apa? Balik lagi ke diri sendiri agar tidak terlalu dimasukin ke hati apa saja yang orang ungkapkan. Istilahnya lebih tebal kuping aja. Selama komentarnya positif ya kita pertimbangkan. Ketika komentarnya negatif, buat apa kita juga pusing-pusing mikirinnya. Betul betul betul.. (*upin ipin style).

    Dan sesama ibu, please stop judging other moms. Hindarilah merasa pengasuhan kita paling benar, yang lain salah.

    3. Pemasukan yg berkurang.

    Mungkin ketika istri masih bekerja, keuangan lebih stabil. Ingin beli apa bisa punya uang sendiri. Tapi setelah menjadi SAHM mungkin akan berbeda. Kuncinya apa? Ya syukuri berapapun rezeki yg diberikan suami. Mulai berhemat. Rajin menabung. Gak lapar mata apa-apa dibeli.

    Dari hal positif negatif di atas, ada challange lagi ketika ibu memutuskan jadi SAHM seperti :

    1. Bagaimana membangun komunikasi terus menerus antar pasutri yang baik.
    2. Lebih saling pengertian dan peka satu sama lain.
    3. Berpegang teguh sama prinsip dan keputusan yang sudah disepakati bersama.
    4. Be productive SAHM. Memperluas kebermanfaatan tidak saja internal rumah tangga, tapi juga eksternal. Tetapi tidak luput mengutamakan rumah tangga itu sendiri tentunya.

    Lalu saya sendiri bagaimana?
    Let's see later ya.. 😄😄

    Dan saya pun yakin, dimanapun seorang ibu berada dalam hati kecilnya ia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Entah menjadi ibu rumah tangga, ataupun ibu bekerja. Pasti ada faktor-faktor yang membedakan antara satu rumah tangga dengan rumah tangga lainnya yang gak bisa disamaratakan.

    Ya akhirnya, saya ingin mengungkapkan rasa bahagia ketika tergabung dalam komunitas-komunitas yang seperjuangan dengan saya.
    Banyak hikmah yang tersebar di dalamnya.
    Selanjutnya apa? Mari kita kumpulkan hikmah-hikmah tersebut agar kita menjadi orang tua yang lebih dewasa dan bijak dalam berpikir maupun bertindak.

    Dengan diskusi ini pun kegabutan saya pun menjadi sedikit lebih bernilai.. Hahaha

    Bekasi, 9 Mei 2017

    0

    Bagaimana cara mengajarkan anak membaca sejak bayi?

    Dulu,  saat saya masih aktif jadi guru privat,  saya pernah terkejut saat mendapati anak usia 4 tahun belum bisa menyebutkan nama binatang dan sayuran yang umum dilihat yang ada di sebuah buku cerita anak.  Setelah ditelusuri,  ternyata anak itu belum pernah dibacakan buku apapun dari bayi. Empat tahun usianya,  belum pernah dibacakan buku!  😱😱😱

    Bukan,  saya bukan sedang mengkritisi kecerdasannya. Saya mengkritisi kenapa hingga usia 4 tahun orang tuanya gak pernah membacakan buku apapun ke anaknya.  Dan kemudian,  tiba-tiba mengeleskan anaknya baca tulis hitung! 😱😱😱

    Anak usia 4 tahun,  sebelumnya gak pernah dibacain buku, lalu mau les calistung! 

    Masya Allah 😢

    Kalo boleh saya ibaratkan, ini sama aja kayak gelas kosong yg dingin lalu tiba2 disiram air panas mendidih dari kompor. Apaa yg terjadi?  Retak,  pecah,  umeb lah otaknya.  😢😢😢

    Belakangan,  seiring bertambah seringnya jam terbang ngelesin, saya semakin terkejut karena kasus seperti ini ternyata UMUM terjadi. Banyak sekali orang tua yg gak pernah membacakan buku pada anaknya dari bayi,  kemudian ujug2 tiba2 mengeleskan anaknya membaca.  Atau membiarkan anaknya masuk TK/SD untuk diajari membaca.  Usia 5tahun, 6tahun, belum pernah dibacain buku dan tiba2 disuruh cepet bisa baca.  😢😢😢

    Pak,  Bu yang bijaksana
    Sungguh anak itu bukan kelinci percobaan yang bisa kita coba-coba kemampuan otaknya sesuka hati. 

    Anak itu baruuu boleh diajarkan membaca saat sudah seriiiiing dibacain buku,
    saat sudah luluuus kemampuan pra membacanya seperti menggunting,  menghubungkan titik2, memahami konsep cerita dll. 

    Emang apa bedanya anak yg biasa dibacain buku dan yg gak biasa dibacain buku saat mereka belajar membaca? 

    BEDA. Saya membuktikan sendiri keduanya berbeda. 

    Anak yg biasa dibacain buku akan fokus MEMAHAMI BACAAN.  Sedangkan anak yang gak biasa dibacain buku akan fokus MEMBACA TULISAN.

    Misal,  ada gambar buku yang di bawahnya bertuliskan B-U-K-U
    Anak yg biasa dibacain buku akan dengan spontan berkata BU-KU meski belum diajari mengeja. Dia tau kalo itu gambar buku,  maka tulisan di bawahnya adalah buku. 

    Sementara anak yg gak biasa dibacain buku,  akan dengan susah payah mengeja tulisan itu. 

    be u BU
    ka u KU
    BU KU

    Ya.  Dia fokus pada tulisan.  Bukan konteks. 

    Maka,  mengajari anak yg gak biasa dibacain buku ituuu lebih susah karena si anak lebih fokus MEMBACA TULISAN,  bukan MEMAHAMI BACAAN. 

    Yang model begini,  kalo udah mahir membaca lalu disuruh membaca satu cerita utuh,  dia hanya akan sekadar membaca tulisannya.  Saat ditanya,  apa isi ceritanya? Dia gak tau. 
    Murid les saya banyak yg begini😢😢😢

    Beda dengan yg biasa dibacain buku,  dia MEMBACA untuk MEMAHAMI.  Saat sudah mahir membaca dan disuruh membaca satu cerita utuh,  dia akan bisa menjelaskan ulang isi cerita tersebut.  Bahkan ditambahin komentarnya tentang cerita tersebut.  Atau bahkan melontarkan pertanyaan2 terkait cerita yg dibaca.

    See?

    Logika yang benar itu,  biasain membacakan buku pada anak dulu dari kecil,  baruuu ajarin anak membaca. 
    Bukaaan bisa baca dulu baru dibiasain membaca

    Nah,  balik lagi ke pentingnya membacakan buku pada anak dari kecil,  kita gak mau kan jadi orang tua yg dzalim?
    Kita gak mau kan ngerusak otak anak kita sendiri?
    Kita gak mau kan anak kita CUMA sekadar bisa MEMBACA?

    Maka, 
    Pak,  Bu yang bijaksana
    Luangkanlah waktumu sejenak
    Tatap beningnya mata anak-anak
    Penuhi fitrah cinta ilmu sang anak
    Ceritakanlah kisah-kisah teladan penuh hikmah yang membutuhkan semangat menyeruak
    Bermainlah bersamanya tunjukkan betapa indahnya dunia sambil mensyukuri ciptaan Sang Rozzak
    Bacakanlah satu dua bukuu untuknya jangan mengelak

    Pak,  Bu yang baik hatinya
    Sediakanlah fasilitas baca yg mumpuni di rumah sendiri
    Atau kalo tak bisa,  ajaklah balitamu ke perpus kota minimal seminggu sekali
    Sekarang jangan banyak beralasan lagi!

    Anak kita berhak memiliki orang tua yang peduli pada kecintaan membaca,  bukan sekadar mahir membaca.

    ~Novika Amelia

    0

    A random tought to bring back the Value of "Half of the Deen"

    Before married : bunga mawar seiket
    After married : kembang kol seiket

    Before married : gaji laki2 5jt, gaji istri 5jt
    After married : gaji laki2 0, gaji istri 10jt

    Before married : you are my prince
    After married : you are my atm machine

    Atau

    Meme meme jahil sejenis yang menggambarkan "how pathetic marriage is", seperti :

    Baru nikah, nama di hp : my whole world
    2 bulan nikah : my wife
    2 tahun nikah : mama nya anak2
    4 tahun nikah : orang rumah
    10 tahun nikah : satpam

    So does

    Baru nikah, nama di hp : pangeranku
    2 bulan nikah : lovely hubby
    2 tahun nikah : bapaknya anak2
    4 tahun nikah : bos besar
    10 tahun nikah : atm machine!

    Well well, well said?

    Lagi-lagi, sadly, how pathetic marriage is? Yea looks sooo pathetic!

    Terusin aja sih, bakal muncul lagi meme curhatan lainnya dari penggambaran rumah tangga yang menyedihkan.

    Miris ya? Kirain abis ngeluarin uang ratusan juta buat pesta nikahan meriah, tetep bisa unyu2an kayak chelsea olivia dan glenn alinskie, ternyata segitunya kaahhh?

    Yaaaa harusnya sih amit amit dong jangan sampeee nasibnya kaya meme meme jahil itu yaaah. Siapaa coba yang shanggup.

    Berdoa deh kuat2 semoga gak ikutan mengamini salah satu meme macem di atas.

    Harusnya, harusnya nih ya.. abis nikah penghargaan sm pasangan tu makin tinggi lho. Coba bayangin, abis nikah, sama2 gak punya apa2, saling mengerti dan menguatkan, eh kemudian istri hamil, istri harus mengandung, badannya melar belang bentong, abis itu melahirkan, menyusui, membesarkan, dealing with any kind of kids moment, hampir jadi gesrek ngadepin tingkah polah anak yang ajaib, belum lagi ngebayangin harus ngatur keuangan, harus menjamin ini itu, ita inu.

    Kemudian, suami, abis nikah, eh lalu harus berhadapan sama tagihan listrik yang tiap bulan berjuta-juta itu! Belom mikirin biaya pendidikan anak kelak, jaminan kesehatan, nyicil rumah, nyicil mobil, banting tulang pagi malem buat supaya anak istri kenyang bahagia bisa jajan enak, sukur2 punya tabungan buat jalan ke eropa (lah). Belom lagi istri baweel banget curhat soal anak, sampe rumah harus ON lagi buat keluarga.

    See? That responsibilities! Ga kebayang lah jaman abege bisa mikul hal-hal semacam itu. Bisa pingsan duluan rasanya ngebayanginnya.

    Teruss? Yang model2 begitu harusnya gimana tuh? Ya harusnya ga ikut mengamini meme meme jahil tadi dong. Kesian amaatt udah berusah payah cuma dapet kembang kol! Atauuu cuma jadi mesin atm doang, trus sisi lainnya kelauutt?

    Suami butuh istri! Istri juga butuh suami! They do need each other to go through difficult times together. Raising kids, dealing with lyfe problems, ended up with reaching Jannah. Setting up lyfe goals and how to pursue dreams.

    Nilai sebagai suami istri ga boleh berkurang, bahkan harus terus bertambah. Ga boleh lah, lama2 nilai pasangan hanya "bapaknya anak2" atau "ibunya anak2". Nilainya tetep sama toh harusnya? SEPARUH AGAMA! Tempatnya berladang amal, tempatnya sama2 manjat tebing jurang buat sampe puncak kejayaan (surga) sama-sama.

    Harusnya ga ada dong kemudian istilah "aku bertahan demi anak-anak, kalo ga ada anak-anak entah apa jadinya". Maygat! Ini nih, the bottom of pathetic-ness. Ya gakk sihhh? Gimana engga?

    Kalo ceritanya gitu, value suami atau value istri udah ga ada di mata masing2 doonggg (emot nangis meraung2). Menyedihkan. Padahal awal nya dimulai dari niatan bercinta kasih yang penuh keberkahan. Endingnya valuenya berubah ke anak. Lalu berubah lagi ke "yaah, udah nasibb dah" (emote broken heart)

    Teruss kalo ga ada anak, belum dikaruniai anak keturunan, udah aja gitu ilang lenyap sekejap lah Value istri kita atau suami kita? Duhilaah cian dong :(

    Kira2 apa dong yg harus dibenahin supaya meme meme jahil tadi ga membabi buta menyerang akun-akun publik macam @dagelan atau @9gag ?! Sehingga menciptakan ilusi untuk kemudian diamini masyarakat dunia tentang kenyataan berumah tangga yg menyedihkan ituuuhh (backsound lagu peterpan plis..)

    Yaaa kayanya yang mau berumah tangga harus mikir lagi deh. Mikir kuat2. Terus kemudian komitmen sama diri sendiri untuk menghargai pasangan bahkan LEBIH setelah nikah. Setelah punya anak (atau belum). Setelah kemudian berharta banyak (atau belum). Setelah kemudian menua bersama. Atau bahkan setelah pasangannya bikin kesalahan kesalahan kecil dalam perjalanan.

    Ketika awal menikah, pasangan adalah kesayangan, kecintaan, yang tercantik, yang terganteng, yang terbaik, maka setelah kita punya anak, jangan biarkan anak mengambil sepenuhnya porsi hidup kita.

    Jangan lupa kalau pasangan kita lah yang menyempurnakan agama kita dari awal, maka tetap jadikan dia kesayangan. Beri hak nya lewat berbagai bentuk penghargaan (banyak loh bentuknya!).

    Don't ever try to swap Roses with Cauliflower, ever again! Give her a bunch of roses, atau bahkan beliin kembang setaman sekalian. Biar makin semangat beramal jadi istri solehah. Dan jangann pernah merubah mind set bahwa suami adalah mesin atm berjalan, they deserve even ur whole world! Biar langkahnya bertaburan di muka bumi itu terus penuh keberkahan.

    Ketika kemudian anak mulai besar, masing-masing makin punya rutinitas kesibukan di luar rumah, tetap lah gandeng tangan Separuh Agama kita, yakinkan bahwa pasangan kita lah yang membawa kita diposisi sedemikian tinggi atau rendahnya.

    Maka.. ketika suatu saat datang sebuah ujian besar dalam rumah tangga, harapannya kita tidak akan pernah goyang untuk sama-sama cari solusi dengan tenang. Mencari jalan keluar dan berteguh terus pada jalan Ridho Nya. Tetap dalam cinta yang tulus dan menenangkan.

    Maka.. ketika suatu hari meme meme jahil di atas kembali menyerang negara api (lah jadi negara api), maka kita si mpunya rumah tangga akan bisa sanggup ngebatin "yaailaah cian amat, gue sih Alhamdulillah ga begitu". Nahh sedapp kan tuhh!

    Indah kan jadinya dunia persilatan ya? Ga ada lah saling kecewa dan mengecewakan.

    Yang ada akhirnya kelak masa tua nan indah, berbonus seruputan teh atau kopi hangat di cafe kecil kota di Eropa, tetap bergandengan tangan mesra (dan terus dapet pahala). Menertawai bersama tingkah polah anak cucu yang semakin mempesona.

    Maka dengan ini, mari boikot meme meme jahil, tentang rumah tangga :) kita pasti bisa!

    Tertanda,
    Yang HARUS bahagia!

    *saya gak tau pasti siapa penulisnya. Tapi penting utk diambil sebagai bahan renungan dan diambil hikmahnya*
    #DiskusiEmakKekinian

    0

    I am BACK!!

    Assalaamu'alaykum

    Finally. Setelah sekian lama saya kembali buka blog.. hahaha

    Ya Allah liat blog mungkin ini kayak rumah yang uddah banyak ilalang, bulukan, debuan, banyak sarang laba2 karena gak pernah dibuka dan rapikan..

    InsyaAllah akan mulai sharing lagi.

    Mungkin selanjutnya pembahasan akan berhubungan soal dunia parenting, ibu dan anak dsj nya ya..

    Pasca menikah dan punya anak saya mengikuti banyak sekali grup bertema ibu anak..

    Banyak whatssapp penting yang saya marking sebagai "starred message".

    Tapi alamakk.. hp sy mendadak rusak dan harus di install ulang.  Raib deh itu semua.. 😕😕😥😥😷😷

    Untuk itu saya ingin abadikan itu di blog aja deh.. hehe

    Kalaupun gak dibaca banyak orang minimal buat saya sendiri hehe

    Sekian dlu..

    Wassalam.

    Inez

    Back to Top